Menanti Akselerasi Perekonomian Jabar Selatan
Oleh Fajar Sukma Wicaksono, pada Nov 13, 2017 | 11:36 WIB
Menanti Akselerasi Perekonomian Jabar Selatan
Sejumlah wisatawan menikmati pantai Karang Tawulan di Kabupaten Tasikmalaya, belum lama ini. Karang Tawulan merupakan potensi wisata pantai yang mulai terkenal sejak pembangunan infrastruktur di selatan Jabar dibangun secara masif.

TASIK, AYOTASIK.COM—Jawa Barat bagian selatan adalah pesona alami. Ibaratnya seperti gadis cantik yang belum tersentuh. Di wilayah selatan Jabar itu, banyak potensi wisata pantai dan pegunungan yang masih alami.

Belum lagi, potensi sumber daya alam, perkebunan, perikanan dan hortikultura. Sayang, selama bertahun-tahun pembangunan di Jawa Barat terkonsentrasi di wilayah utara.

Pembangunan di wilayah selatan bak langit dan bumi, karena infrastrukturnya masih minim, sehingga ekonominya jauh tertinggal. Tapi itu kondisi 15-20 tahun lalu.

Sebab, sejak Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan memimpin pada 2008, porsi anggaran infrastruktur mulai diperbesar. Berdasarkan data Pemprov Jabar dan Kementerian Pekerjaan Umum, anggaran pembangunan, pemeliharan jalan dan jembatan pada 2010 mencapai Rp522 miliar, atau naik 427% dibandingkan realisasi anggaran pada 2007.

Pada tahun yang sama, Jabar sudah merehabilitasi jalan dan jembatan dengan anggaran Rp292 miliar, atau naik 179% dari realisasi tahun 2007.

Dalam kurun waktu 2008-2011 tercatat ada sejumlah pembangunan monumental diantaranya Jalan Lingkar Nagreg dan Waduk Darma, peningkatan kualitas jalan sepanjang 352 kilometer dan penggantian jembatan rusak sepanjang 463 km yang sebagian besar di wilayah selatan.

Selama hampir 10 tahun periode kepemimpinannya, Pemprov Jabar mulai memperhatikan infrasruktur di bagian selatan yang membentang mulai dari Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, hingga Paggandaran itu.

Meskipun, lambat dan berat, kini secara perlahan ekonomi di sana mulai menggeliat. Tengok saja ketenaran Geopark Ciletuh yang saat ini yang menjadi destinasi wisatawan nasional.

Atau pesona pantai Rancabuaya, Cidaun, Santolo di Garut, dan Jayanti yang mulai menarik perhatian para wisatawan asing dan lokal. Ada juga Karang Tawulan di Tasikmalaya yang mulai terkenal karena wilayahnya yang mirip pantai-pantai di Bali.

Rakor Bank Indonesia

Upaya Pempov Jabar dalam memacu infrastruktur ini juga menarik perhatian pemerintah pusat. Bahkan, secara khusus Bank Indonesia menggelar pertemuan  rutin khusus membahas ekonomi Jawa Barat di Bandung, pada 27 September lalu.

Hadir dalam rapat tersebut Gubernur BI Agus DW Martowardojo, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Perindustrian Airlangga Hartato, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan sejumlah kepala daerah di lingkungan Jawa Barat. 

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengemukakan saat ini masih banyak proyek infrastruktur yang sedang dipacu. Selain, megaproyek pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Kabupaten Majalengka, Jabar juga sedang membangun bandara-bandara perintis untuk mempercepat akselerasi ke wilayah selatan.

Diantaranya pembangunan Bandara Citarate di Kabupaten Sukabumi, Bandara Pameungpeuk di Kabupaten Garut, Bandara Wiriadinata di Kabupaten Tasikmalaya dan Bandara Nusawiru di Kabupaten Pangandaran serta pengembangan pariwisata di Ciletuh Pelabuhan Ratu, serta pembangunan sejumlah Pelabuhan baru di Jawa Barat.

"Apalagi nanti kan bandara akan jadi, Ciletuh di pariwisata, atau kawasan selatan kita ingin tumbuh juga, pertumbuhan di Patimban disebelah utara, di timur bandara, di sebelah sana Pelabuhan Ratu Ciletuh. Ini Insya Allah akan menjadi sesuatu yang menguntungkan kita karena denyut ekonominya akan tinggi, karena didorong oleh kawasan-kawasan yang punya kemajuan tersebut," kata dia.

Dalam rakor itu, Gubernur BI Agus DW Martowardojo mengapresiasi pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat merupakan salah satu yang baik di Indonesia. Namun, meskipun pembangunan infrastruktur di Jabar sudah dipacu, ekonomi di selatan tetap belum bisa mengimbangi laju ekonomi di wilayah utara Jabar. Agus menilai masih ada ketimpangan pembangunan antara Jabar wilayah utara dan selatan.  

"Ketimpangan ekonomi masih terjadi. Ketimpangan antara Jabar utara dan selatan masih menjadi tantangan di Jawa Barat," kata Agus, di Bandung (27/9/2017). 

Untuk itu, kata Agus, ada lima hal penting yang harus dilakukan untuk mengikis ketimpangan ekonomi yang terjadi. Mulai dari menggenjot sejumlah pembangunan infrastruktur mulai dari jalan tol, pelabuhan hingga bandara yang semuanya masih dalam proses pengerjaan.

Kemudian pemerintah harus mendorong berkembangnya ekonomi potensial di daerah. Untuk di wilayah Jabar utara bisa mengembangkan produk yang diproritaskan pada produk ekspor, seperti otomotif dan tekstil. Sementara di wilayah Jabar selatan bisa dikembangkan industri pertanian, pariwisata termasuk sektor maritim. 

"Kita juga mendorong berkembangya sektor industri berdaya saing tinggi, selain fisik juga meningkatkan SDM dengan adanya politeknik di kawasan industri," ujar Agus. 

Tol Cigatas

Akses infrastuktur lain yang paling ditunggu dan dapat mempunyai efek domino terhadap perekonomian wilayah Jabar selatan adalah Tol Cileunyi - Garut - Tasikmalaya (Cigatas).

Megaproyek ini digadang-gadang mampu membangkitkan sektor industri di wilayah Jabar Selatan. Khususnya priangan timur. Terlebih, wilayah tersebut punya potensi industri kreatif yang luar biasa. Diantaranya, kerajinan anyaman mendong, anyaman bambu, batik, payung geulis dan lainnya.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan Tol Cigatas ini sudah masuk dalam perencanaan pembangunan bersama Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu),  dan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) yang sudah masuk tahapan konstruksi.

"Selain itu, ada beberapa proyek infrastruktur lainnya yang tidak kalah penting. Seperti, proyek  Pelabuhan Patimban, Bandung Intra Urban Toll Road (BIUTR), jalan di kawasan Pantai Selatan (Pasela), serta jalur kereta api double track Bogor-Sukabumi," katanya, belum lama ini.

Aher menuturkan proyek-proyek tersebut diyakini mampu mendorong pertumbuhan sektor ekonomi potensial, serta mengurangi disparitas atau ketimpangan ekonomi antara wilayah Jawa Barat bagian utara dengan selatan. Selain itu, infrastruktur juga penting dalam meningkatan konektivitas kawasan yang mampu menciptakan pertumbuhan.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Iwa Karniwa menambahkan 
ditargetkan Tol Cigatas ini akan rampung pada tahun 2019. Sehingga, pada tahun 2019-2020 sudah mulai beroperasi.

"Berdasarkan hasil feasibility studies (studi kelayakan), gerbang tol akan dibuka di wilayah Gede Bage," ujarnya.

Untuk rutenya sendiri Tol Cigatas akan melalui Gedebage, Majalaya, Garut, Tasikmalaya, Banjar dan Ciamis dengan panjang sekitar 116 kilometer. Investasi untuk pembangunan jalan tol Cigatas mencapai sekitar Rp6 triliun hingga Rp8 triliun.

"Jalan tol Cigatas awalnya dari Cileunyi ke Tasikmalaya menjadi dari Gedebage dan Majalaya. Ini untuk meningkatkan perekonomian di Bandung Selatan, Garut, Kabupaten/Kota Tasikmalaya, Banjar dan Ciamis," terangnya.

Iwa menjelaskan dengan tol ini waktu tempuh Banjar - Bandung diperkirakan hanya 60 menit. Dengan jarak tempuh yang singkat, dipastikan dampak positif terhadap perekonomian warga Jawa Barat akan meningkat.

Salah satu kepala daerah wilayah Jabar selatan yang sudah gregetan menunggu proyek Tol Cigatas ini rampung adalah Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman.

Ia secara blak-blakan mengaku cemburu karena pembangunan selalu berada di wilayah utara. Oleh sebab itu, Tol Cigatas sangat dinanti dan diharapkan segera terealisasi untuk pertumbuhan ekonomi Jabar Selatan.

Budi menyatakan pembangunan itu punya dampak besar untuk perekonomian di Jawa Barat bagian Selatan. Pembangunan Tol Cigatas ini mampu mendongkrak berbagai aspek. Baik itu ekonomi, investasi dan daya saing.

"Sehingga, penyerapan tenaga kerja akan berjalan lebih baik beriringan dengan industri yang bertumbuh kembang," harapnya.

Budi menjelaskan dengan adanya pembangunan Tol Cigatas ini, tidak hanya kemudahan transportasi saja yang dirasakan masyarakat, tapi juga peluang investasi.

Sebab, biasanya para investor itu akan menghitung jumlah aktivitas kendaraan atau lalu lintas sebuah daerah.

"Jabotabek kan sudah padat. Termasuk Bandung. Kalau sudah padat begitu, industrinya banyak. Pasti para investor bisa investasi di Tasikmalaya. Apalagi kita punya industri-industri kreatif," papar Budi.

Menurutnya, Jabar selatan kawasan yang cukup padat penduduk. Di wilayah Priangan Timur hingga Pangandaran saja mencapai angka 12 juta jiwa. Oleh sebab itu, baginya, pembangunan infrastruktur jalan tol juga dianggap penting.

"Alhamdulillah, Cigatas sudah masuk rencana pembangunan nasional. Saya lihat di running text televisi Cigatas ini akan dimulai pada tahun 2019. Nantinya, tak hanya sektor ekonomi yang terdongkrak, tapi juga sektor pariwisata," ucapnya.

Di lain sisi, Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartarto menyatakan Jawa Barat ini adalah provinsi industri. Terlebih wilayah Jabar Selatan. Industri kecil dan menengah di wilayah ini mempunyai peluang untuk mengurangi disparitas pendapatan masyarakat di Jabar Utara dan Selatan.

"Kita harus mengingat bahwa 2025 nanti otomotif Jawa Barat itu produksinya dua juta kendaraan dari sekarang 1,4 juta. Sehingga, pembangunan infrastruktur jalan menjadi sangat penting," tegasnya.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI Luhut Binsar Panjaitan menegaskan Jabar Selatan akan betul-betul dikembangkan infrastrukturnya. Sebab pemerintah pusat sadar betul pembangunan masih fokus di Jabar Utara.

"Kita buat semua terintegrasi, dananya sudah tidak ada masalah. Namun, kita juga bicara kualitas, semua pengerjaan proyek kita ingin baik," tegasnya.

Ia mengungkapkan proyek lain di Jabar memiliki tujuan yang sama. Yakni, agar bisa mengurangi kesenjangan ekonomi di bagian utara dan selatan Jabar.

Proyek tersebut antara lain jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan yang ditargetkan rampung pada 2019, Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi yang akan selesai 2019, Tol Serang-Panimbang yang akan selesai pada 2019, serta penyelesaian jalur lintas selatan Jawa yang akan sambung pada 2019.

Jika, semua infrastruktur yang direncanakan itu berhasil rampung tepat waktu, maka cibiran bahwa wilayah selatan Jawa barat yang dinilai selalu tertinggal dan membuat kecemburuan sosial ini, mudah-mudahan tidak akan terjadi lagi. Semoga.

Editor : Administrator
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600