Di Tengah Keramaian Warga Sambut Wali Kota Baru, Bocah Ini Terancam Hidrosefalus
Oleh Fajar Sukma Wicaksono, pada Nov 14, 2017 | 12:13 WIB
Di Tengah Keramaian Warga Sambut Wali Kota Baru, Bocah Ini Terancam Hidrosefalus
Tari Khaerunnisa bersama bayinya, Alfarizky, yang terancam menderita hidrosefalus. (AyoTasik/Fajar Sukma)

TASIK, AYOTASIK.COM -- Miris, di tengah hegemoni pelantikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tasikmalaya yang baru, terselip kisah seorang anak umur sekitar 50 hari yang terancam oleh penyakit hidrosefalus.

Bocah yang bernama Alfarizky, warga Kampung Seladarma RT 04 RW 01 Kelurahan Yudanegara, Kecamatan Cihideung, terpaksa menghentikan upaya medis untuk pengobatannya. Sebab, keluarga tak sanggup menanggung biaya pengobatan di rumah sakit yang mencapai puluhan juta rupiah.

Ibu Alfarizki, Tari Khaerunnissa mengatakan, menurut keterangan dokter, penyakit Alfarizki adalah penyakit bawaan dari lahir. Dari hasil diagnosa, Alfarizki mengalami masalah di bagian tulang ekor. Ada cairan keluar dari cincin yang ada di tulang ekor.

"Menurut dokter Alfarizki harus segera ditangani. Sebab, jika tidak segera ditangani akan berdampak pada otaknya. Lama-kelamaan bisa mengalami penyakit hidrosefalus," katanya kepada AyoTasik, Selasa (14/11/2017).

Hidrosefalus adalah penumpukan cairan pada rongga otak, yang mengibatkan ventrikel-ventrikel di dalamnya membesar dan menekan organ tersebut. Cairan ini akan terus bertambah sehingga ventrikel di dalam otak membesar dan menekan struktur dan jaringan otak di sekitarnya. Jika tidak segera ditangani, tekanan ini dapat merusak jaringan dan melemahkan fungsi otak.

Ia menuturkan, saat ini Alfarizki hanya bisa terbaring di rumah dengan pengobatan alakadarnya. Sebab, pihak keluarga tidak mampu untuk menutupi biaya pengobatan yang mencapai Rp 20 jutaan. Belum lagi biaya-biaya yang tidak terduga.

"Awalnya kami sudah bawa ke RSUD dr Soekardjo, karena penuh lalu dirujuk ke RS Bunda Aisyah. Karena tidak ada ahli saraf maka dirujuk ke Bandung. Bingung tidak punya uang akhirnya sampai saat ini belum dibawa ke Bandung," ujarnya.

Tari mengungkapkan, suaminya yang bernama Dodi, hanya seorang buruh serabutan. Jangankan untuk biaya pengobatan, untuk sehari-hari saja kadang masih kewalahan.

"Kami punya BPJS, tapi katanya hanya bisa membantu sekitar 20% saja untuk semua biaya pengobatan. Saat ini BPJS tersebut sedang diurus untuk menjadi Kartu Indonesia Sehat (KIS)," ungkapnya.

Ia berharap ada donatur yang rela menyisihkan hartanya untuk membantu biaya pengobatan Alfarizki. Terutama bantuan dari pemerintah Kota Tasikmalaya.

"Kemarin sempat ada dari pihak puskesmas yang menengok. Itupun karena sudah ramai di media. Jadi, di momen pergantian Wali Kota dan Wakil Wali Kota yang baru ini ada upaya perhatian dari Pemkot Tasikmalaya," harapnya. 

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600