Aher: Bangunan di Kawasan Rawan Bencana Harus Sesuai Peraturan
Oleh Hengky Sulaksono, pada Dec 20, 2017 | 18:21 WIB
Aher: Bangunan di Kawasan Rawan Bencana Harus Sesuai Peraturan
Bangunan yang rusak akibat Gempa di Tasik (Hengky/ayotasik)

TASIK, AYOTASIK.COM--Kerusakan bangunan akibat gempa bumi berkekuatan 6.9 Skala Richter di pesisir selatan Pulau Jawa beberapa waktu lalu disinyalir ikut disebabkan kondisi bangunan yang tidak memadai. Rapuhnya struktur sejumlah bangunan yang berdiri dianggap memperparah dampak kerusakan akibat gempa.

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan dalam lawatannya ke beberapa titik yang dilanda kerusakan akibat gempa, Rabu (20/12/2017) menyimpulkan adanya sejumlah kerusakan yang dipicu kondisi bangunan tidak sesuai aturan.

"Saya tadi di Ciamis, kemudian melihat rumah di Pangandaran juga sama, rata-rata yang roboh itu kaidah-kaidah pembangunannya tidak ditepati dengan baik," kata Aher kepada wartawan saat meninjau kerusakan SMK Negeri 3 Kota Tasikmalaya.

Dalam kunjungannya tersebut, Aher memang meninjau sejumlah lokasi terdampak gempa di Ciamis, Pangandaran, dan Kota serta Kabupaten Tasik. Selain meninjau, Aher juga melakukan evaluasi kasat mata terhadap bangunan yang roboh.

Bangunan lima kelas SMKN 3 Kota Tasik yang juga luluh lantak tak lepas dari penilaian Aher. Berdasarkan informasi yang ia peroleh, bagian atap yang menyangga genting di sekolah tersebut menggunakan struktur baja ringan. Aher memperkirakan struktur bangunan yang digunakan tidak cocok digunakan menyangga genting di bagian atas.

"Sekolah yang rusak (SMKN 3 Kota Tasik) boleh jadi baja ringan (yang digunakan) tidak cocok. Atau kemudian baja ringannya cocok untuk genting ringan. Ini, kan, baja ringannya untuk genting biasa. Jadi kaberatan (terlalu berat). Ketika digoyang, ya (roboh)," katanya.

Ke depan, imbuh Aher, semua pihak, terkhusus Pemerintah harus membangun sebuah kesadaran kolektuf ihwal kondosi geografis Jawa Barat, khususnya bagian selatan yang merupakan kawasan rawan bencana. Beberapa daerah yang disebut rawan antara lain Tasik, Ciamis, Pangandaran, Cianjur Selatan, dan Garut Selatan.

"Semenjak penciptaannya begitu, karena ada di cincin api (ring of fire), sehingga dampak dari cincin api tersebut rawan gempa. Oleh karena itu, kita harus memberikan kesadaran kepada semua pihak, pemerintahnya maupun masyarakatnya," kata Heryawan.

Ia juga mengimbau agar masyarakat di daerah rawan gempa bisa taat asas sebelum melakukan pembangunan tempat bermukim. Salah satu caranya yakni dengan mengajukan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) agar tempat yang didirikan sesuai ketentuan administratif dan kaidah teknik sipil.

"Kalau (punya) IMB pasti oleh (petugas) kantor (dinas) dimintai gambarnya, ada standarnya. Nah, ketika tidak seseuai standar, nanti diluruskan oleh tim (yang memberikan pelayanan) IMB. Sehingga kalau ber-IMB pasti diluruskan, karena ada kaidah-kaidahnya," ujar dia.

Jika bangunan tidak memiliki IMB, sebut Aher, petugas Pemerintah bakal kesulitan melakukan kontrol. Bangunan tanpa IMB juga dinilai rentan untuk melenceng dari kaidah-kaidah teknik sipil lantaran tidak dipersiapkan masak-masak.

"Enggak klop. (Harusnya) dari pemerintahnya ada layanan, dari masyarakatnya ada kesadaran untuk mengurus IMB. Karena kalau IMB diurus, pasti nanti diluruskan. Dan itu pasti ada perencanaannya. Memang sedikit sulit, ada gambarya segala macam. Tapi wayahna (mau tidak mau). Kan, persoalan ke depan supaya jangan sampai ada musibah (roboh)," kata dia.

Editor : A. Dadan Muhanda
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600