Mengintip Potensi Budi Daya Lebah Madu Tasik
Oleh Fajar Sukma Wicaksono, pada Mar 08, 2018 | 18:51 WIB
Mengintip Potensi Budi Daya Lebah Madu Tasik
Budi daya lebah madu Tasikmalaya. (ayotasik/Fajar Sukma)

KAWALU, AYOTASIK.COM – Di tengah banyaknya sentra industri, ternyata Kota Tasikmalaya punya potensi lain di bidang peternakan berupa budi daya lebah madu. Terletak di Kecamatan Kawalu, hasil produksi madu dari lebah asal Tasikmalaya ini tidak kalah dengan madu dari daerah lain.

Adalah Kelompok Tani “Teratai” di Kampung Sindangsuka, Kelurahan Gunung Gede, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya yang dengan sabar merintis budi daya lebah madu tersebut hingga menghasilkan madu berkualitas unggul.

Kelompok ini dirintis sejak tahun 1999 silam, dan hingga kini masih terus membudidaya lebah, memproduksi madu asli tanpa campuran bahan apapun, sehingga kualitasnya terjamin dan berkhasiat untuk menjaga kesehatan tubuh.

Ketua Kelompok Tani Lebah Madu Teratai, Dede Yanti, meyakini jika madu Tasik ini tidak kalah hebatnya dengan madu produksi luar daerah. Hal itu dibuktikan dengan tingkat pemasarannya yang sangat luas sampai ke kota-kota besar di Indonesia.

"Sebulan rata-rata kami menjual dua kwintal. Itu pun kadang masih kurang untuk memenuhi permintaan,” katanya, Kamis (8/3/2018).

Menurutnya, hasil dari budi daya lebah madu ini cukup menjanjikan. Produksi madu asli yang dihasilkan bisa mencapai kwintalan dalam setiap bulannya. Meski begitu, jumlah ini masih belum cukup jika melihat permintaan pasar yang membludak.

"Jenis madu yang dijual ini merupakan hasil dari budi daya lebah lokal dan lebah jenis Apis trigona atau lebah klanceng (teuweul)," ungkapnya.

Ia menyebutkan, harganya sendiri bervariatif, mulai ukuran botol besar hingga kecil. Untuk madu lebah teuweul harganya tiga kali lipat karena khasiatnya lima kali lipat lebih bagus dari madu lebah lokal biasa.

Lama waktu untuk memanen berkisar sekitar dua minggu atau sebulan tergantung banyaknya pakan bunga di lingkungan sekitar. Jika sedang musim banyak bunga di pepohonan sekitar, bisa panen dua minggu.

"Beda dengan lebah teuweul, waktu panennya lebih lama karena jenis dan tempatnya berbeda, kandang ternak pun menggunakan bambu, tidak dalam kotak seperti lebah lokal," jelasnya.

Sementara itu, Perintis Kelompok Tani Lebah Madu di Kota Tasikmalaya, Ateng Jaelani menambahkan, hingga sekarang jumlah penggiat budi daya tersebut tidak banyak. Terhitung tinggal ada dua tempat yang lokasinya berada di wilayah Kelurahan Gunung Gede dan Urug (Kelompok Tani Lebah Madu Mekarwangi).

"Harapannya budi daya lebah madu ini bisa berkembang dan dijalankan di setiap wilayah kelurahan guna meningkatkan produksi madu asli hasil kelompok tani Tasikmalaya. Sehingga dapat memenuhi permintaan pasar dan kebutuhan konsumsi masyarakat luas," paparnya.

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600