Bertandang ke Garut, Kang Uu Tantang Pemuda Berdandanan Punk Berazan di Pasar
Oleh Hengky Sulaksono, pada Jun 09, 2018 | 15:50 WIB
Bertandang ke Garut, Kang Uu Tantang Pemuda Berdandanan Punk Berazan di Pasar
Dua pemuda punk, Arkan dan Reza, saat menerima tantangan Calon Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum, untuk berazan di Pasar Cisurupan, Kabupaten Garut, Sabtu (9/6). (Hengky Sulaksono/ayotasik)

GARUT, AYOTASIK.COM—Dua pemuda punk yang kerap mengamen di Pasar Cisurupan, Kabupaten Garut, melantunkan azan di samping Calon Wakil Gubernur Jawa Barat nomor urut satu, Uu Ruzhanul Ulum. Momen itu terjadi saat pria yang akrab disapa Kang Uu itu tengah melakukan sosialisasi di Pasar Cisurupan, Sabtu (9/6/2018) siang.

Awalnya, kedua pemuda, Arkan (16) dan Reza (17), tengah mengamen di sejumlah kios pedagang pasar. Secara tak sengaja mereka melintasi rute yang digunakan Kang Uu berkampanye. Tak ayal, Kang Uu pun meminta kedua remaja tanggung ini memenuhi tantangan yang dia ajukan dengan iming-iming hadiah.

Semula, Kang Uu meminta mereka menyanyikan lagu kampanye Rindu menggunakan gitar ukulele yang mereka bawa. Namun, para pemuda ini menolak permintaan tersebut lantaran tak mampu menghafal lagu tersebut meski telah beberapa kali diperdengarkan. Kang Uu kemudian meminta salah seorang di antara mereka berazan setelah dia mendengar suara azan Zuhur berkumandang di dalam pasar.

Setelah sejenak saling tunjuk, Arkan akhirnya melakoni tantangan mengumandangkan azan yang dilemparkan Kang Uu. Dia berazan sambil menggunakan mikrofon dan pengeras suara yang dibawa tim kampanye Rindu. Arkan berhasil menuntaskan tantangan azan tanpa hambatan berarti. Sementara itu, Reza kebagian tugas merapal iqamat pascaazan

Kelar malakoni tantangan, kedua pemuda ini diganjar hadiah suvenir oleh cawagub pasangan Ridwan Kamil ini.

Baik Arkam maupun Reza juga sempat berbincang dengan Kang Uu sebelum mereka berpisah. Arkam lebih sering meladeni pembicaraan Kang Uu ketimbang Reza yang tampak malu-malu. Dari hasil perbincangan singkat yang dilakukan, diketahui keduanya merupakan remaja asal Bandung.

Reza dan Arkam telah mengamen selama tiga tahun selepas memutuskan diri untuk keluar dari sekolah masing-masing. Terakhir kali, mereka duduk di bangku SMP. Keduanya beralasan tak melanjutkan sekolah lantaran terganjal persoalan pembiayaan. Mereka juga beralibi ingin hidup mandiri.

Sehari-hari, kedua pemuda ini berkeliling di seputaran Cisurupan, Cikijang, dan Bayongbong menukar jengkal demi jengkal suara mereka dengan rupiah. Selain mengamen, mereka juga kerap berkumpul dengan kelompok berdandan ala punk lainnya. Saban malam, Reza dan Arkam tidur di emperan pertokoan.

Kang Uu yang mendengarkan cerita kedua pemuda ini sempat memberi wejangan kepada mereka. Dia mewajarkan pandangan dan dandanan mereka yang nyentrik dan di luar kebiasaan. "Wajar karena masih anak muda, masih mencari jati diri, mencari identitas. Dulu juga saya sempat jadi anak muda. Tapi jangan terlalu lama seperti ini. Harus berubah," kata dia.

Kang Uu juga mengaku menghargai sikap mereka yang memilih jalan hidup bergulat di jalanan dan mengamen. Kedua remaja ini, sebutnya, dipaksa situasi sehingga mereka harus hidup menggelandang. Padahal, lanjutnya, mereka punya niatan yang cukup mulia, yakni agar tidak membebani keluarga dan berkeinginan hidup mandiri.

"Ini juga menjadi tugas pemerintah untuk memperhatikan mereka. Memperhatikan pendidikan mereka, memberikan lapangan pekerjaan yang laik. Tidak hanya anak punk, tapi juga kepada siapa pun yang tergolong rentan dan membutuhkan kehadiran pemerintah," kata Kang Uu.

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600