Pasang Surut Industri Sepatu Kota Tasik
Oleh Hengky Sulaksono, pada Oct 09, 2018 | 10:31 WIB
Pasang Surut Industri Sepatu Kota Tasik
Para pengrajin di sentra sepatu Mangkubumi. (Hengky Sulaksono/ayotasik)

MANGKUBUMI, AYOTASIK.COM--Sejak dahulu, Kecamatan Mangkubumi sudah punya reputasi sebagai salah satu kawasan sentra industri sepatu di Kota Tasikmalaya. Produk para pengrajin dari Mangkubumi menguasai pasar lokal dan ikut melanglang buana hingga ke luar Pulau Jawa.

Para pengrajin di sentra sepatu Mangkubumi memiliki merk dagang masing-masing. Salah satu di antara sekian merk dagang tersebut ialah Bibeli. Produsen yang mengeluarkan sepatu untuk pria dan wanita ini sudah memproduksi alas kaki sejak sekitar tahun 90-an. Hingga saat ini, Bibeli masih bertahan.

Sejak awal beroperasi, merk sepatu ini tak kesulitan mendapatkan pelanggan lantaran mereka memulai usahanya di masa-masa emas industri kerajinan alas kaki. Pelanggan sepatu Bibeli berasal dari pelbagai daerah di kawasan Priangan Timur. Mereka adalah sales-sales sepatu yang kembali memasarkan barang-barangnya baik dalam skala lokal-mikro di pasar-pasar maupun melintas daerah dan pulau.

"Pemasarannya enggak tahu sampai ke mana, karena yang beli di sini banyak juga dari sales-sales. Jadi mereka yang jual lagi. Kebanyakan di pasar-pasar. Ada juga yang sampai ke luar Jawa," kata salah seorang pekerja produsen sepatu Bibeli, Nani kepada wartawan, belum lama ini.

Dalam sepekan, para pekerja Bibeli sanggup memproduksi sekitar 140-200 kodi alas kaki bergantung dari permintaan yang masuk. Soal harga, sepatu Bibeli dibanderol antara Rp580.000-Rp800.000/kodi bergantung pada jenis dan model yang diproduksi.

Saat krisis moneter di kawasan Asia Tenggara menghajar tahun 1998, industri sepatu Mangkubumi juga ikut terimbas. Tak sedikit di antara mereka yang terpaksa gulung tikar lantaran kehilangan pasar. Bibeli terbilang beruntung lantaran usaha produksi mereka bisa bernapas lebih panjang.

Perputaran roda industri sepatu di Mangkubumi perlahan stabil selepas guncangan krisis. Permintaan pasar kembali menggeliat dan menghidupkan denyut nadi industri yang sempat melemah. Nani yang merupakan warga Mangkubumi mengalami dan menyaksikan langsung siklus pasang surut ini.

Belakangan, Nani mengatakan permintaan pasar atas produk alas kaki mengalami stagnasi bahkan penurunan. Kondisi ini telah berlangsung selama kurang lebih tiga tahun. Nani tak tahu pasti alasan di balik menyusutnya permintaan pasar. Dia hanya bisa menduga kesulitan ini terjadi akibat semakin banyaknya kompetitor produsen lain yang memproduksi jenis barang serupa.

"Mungkin sekarang sudah banyak saingan, tapi pelanggannya tetap. Jadi pelanggannya memilih produk lain. Banyak yang jualan online juga berpengaruh, karena, kan, lebih gampang. Kalau inovasi, kami juga cukup mengikuti tren," kata dia.

Editor : Andres Fatubun
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600