Gunung Galunggung Primadona Wisata Tasikmalaya
Oleh Hengky Sulaksono, pada Oct 16, 2018 | 15:56 WIB
Gunung Galunggung Primadona Wisata Tasikmalaya
Wisata pemandian air panas di Gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya. (Hengky Sulaksono/ayotasik).

GALUNGGUNG, AYOTASIK.COM--Gunung Galunggung merupakan salah satu objek pariwisata andalan di Kabupaten Tasikmalaya yang hingga saat ini masih menjadi primadona. Saban pengujung pekan atau masa libur panjang, objek wisata berhawa sejuk ini selalu jadi incaran para pelancong baik lokal maupun luar daerah.

Catatan Koordinator Objek Wisata Cipanas-Galunggung, Usep Ihrom, setiap hari saat pertengahan pekan Cipanas-Galunggung bisa dikunjungi hingga 150 pelancong. Rata-rata mereka yang berkunjung saban Senin-Jumat ini merupakan wisatawan keluarga.

Saat pengujung pekan, jumlahnya bisa meningkat hingga sepuluh kali lipat lantaran banyak pelancong yang berasal dari luar daerah berdatangan. Kebanyakan dari mereka menikmati pemandian air panas yang disediakan oleh pengelola. Sisanya, para pengunjung memilih aktivitas berkemah.

"Yang berkemah kalau pas weekend banyak juga dari luar Tasikmalaya. Kalau hari-hari biasa jarang ada yang berkemah, kecuali ada kegiatan dari sekolah-sekolah atau kelompok pecinta alam," jelas Usep kepada wartawan, Selasa (16/10/2018) siang.

Tingkat kunjungan ke Galunggung baru akan benar-benar ramai saat hari-hari libur perayaan atau kalender tanggal merah panjang. Saat-saat momen itu tiba, tiket kunjungan yang sanggup ditukar dengan pundi-pundi rupiah bisa mencapai 5.000 lembar setiap hari.

Tak ada data pasti soal tingkat kunjungan tahunan Objek Wisata Cipanas-Galunggung. Tapi, Usep mengatakan jumlah wisatawan yang berkunjung cenderung stagnan selama lima tahun terakhir. Sepanjang Januari-September 2018 tingkat kunjungan disebut mengalami penurunan. Usep tak mengetahui sebab pasti penyusutan tersebut.

Kondisi kawasan wisata saat ini dinilai kurang tertata. Tak sedikit di antara para pengunjung menilai kawasan wisata Galunggung masih semrawut dan perlu penataan di sana-sini.

Potret kekacaubalauan pengelolaan kawasan wisata ini bisa dilihat misalnya melalui masih banyaknya pedagang yang berjualan di areal pejalan kaki, pembayaran retribusi yang berkali-kali dan membingungkan pengunjung, kondisi jalan minim penerangan, minimnya tempat sampah, hingga kolam pemandian air panas yang keruh.

Salah seorang pengunjung asal Desa Jahiang, Kecamatan Salawu, Erik Hendriansyah (31) mengeluhkan kondisi yang serba tak tertata tersebut. Seharusnya, imbuh Erik, pemerintah melakukan penataan secara maksimal lantaran Galunggung merupakan salah satu objek wisata kebanggaan warga Tasik.

"Kalau dibilang sudah sesuai, sih, kurang. Banyak yang masih perlu ditata. Kadang-kadang orang suka bingung karena bayar tiketnya berkali-kali. Harusnya segera dibenahi karena Galunggung itu jadi objek wisata, ikonnya Tasik," tutur Erik beberapa waktu lalu.

Pengunjung lainnya, Arifin (41), menyoroti minimnya keberadaan tempat sampah di kawasan wisata yang dikelola bersama oleh Perum Perhutani dan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya tersebut. Dia mengaku sering keteteran mencari tempat sampah selama berkunjung ke kawasan Galunggung.

AYO BACA : Ribuan Siswa PAUD Kabupaten Tasik Ikuti Manasik Haji

"Harusnya tempat sampahnya diperbanyak. Sekarang ini saya kalau mau buang sampah susahnya minta ampun. Kalau banyak, kan, bisa memudahkan, bisa lebih tertib. Jadi orang-orang yang berkunjung juga enggak buang sampah sembarangan," tukas Arifin.

Staf Ahli Bupati Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Tasikmalaya, Safari Agustin mengatakan pemerintah daerah saat ini tengah berupaya melakukan penataan di kawasan Galunggung. Sebagian penataan telah dalam proses pengerjaan sedangkan yang lainnya masih dalam tahapan penyusunan konsep.

Penataan Galunggung, ujar dia, menjadi fokus setelah Pemkab Tasik melakukan revisi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2016-2021 pada Maret 2018 lalu. Pemerintah saat itu mencanangkan RPJMD harus berfokus pada tiga sektor, yakni pengentasan masalah kemiskinan, pariwisata, dan pertanian.

Penataan Galunggung merupakan pengejewantahan visi fokus pembangunan di sektor pariwisata. Galunggung dipilih lantaran reputasinya yang sudah sedemikian besar. Sealain Galunggung, objek wisata lain yang bakal dibenahi ialah Pantai Karangtawulan.

"Sudah disepakati dalam revisi RPJMD terkait penataan Galunggung ini. Akan didesain sedemikian rupa sehingga Galunggung ini menjadi tujuan wisata nasional. Kita bangun infrastrukturnya, penataannya, budayanya, keseniannya, apalagi parkirnya, wc-nya. Tempat pariwisata ini harus aman, harus nyaman harus membuat wisatawan senang," ujar Safari saat dijumpai akhir pekan lalu.

Safari menuturkan penataan ini tak cuma melibatkan pemerintah. Perum Perhutani dan sejumlah pihak swasta yang juga memiliki lahan di kawasan Galunggung ikut dilibatkan. Tak ketinggalan, warga sekitar yang bermukim di kaki Gunung Galunggung disebut akan berpartisipasi.

Para pihak yang memiliki lahan, ujar Safari, bakal membangun wahana-wahana baru sesuai kemampuan masing-masing dengan konsep yang terintegrasi satu sama lain. Sedangkan warga bakal dilibatkan untuk menyediakan logistik bagi wisatawan-wisatawan yang berkunjung.

Beberapa wahana yang bakal di bangun di antaranya waterboom, trek offroad, wisma wisata, lokasi paralayang, perkebunan agrowisata, view deck sunrise, hingga restoran-restoran. Direncanakan salah satu restoran ini bakal menggunakan bangkai Boeing 747 untuk lebih menarik minat wisatawan. Kondisi pemandian air panas yang saat ini banyak dikeluhkan juga bakal segera dibenahi.

"Semuanya sudah di-matching-kan. Semuanya sudah ada rencana masing-masing dan sebagian susah dikerjakan. Kalau soal sistem bagi hasilnya nanti akan dilihat bagaimana penataan bersama-sama kita membuat MoU," katanya.

Safari menyebut seluruh proses penataan kawasan Galunggung ini membutuhkan waktu setidaknya sekitar lima tahun. Total duit yang harus diinvestasikan berbagai pihak diperkirakan menyentuh angka lebih dari Rp1 triliun. Diharapkan penataan Galunggung bisa menyedot lebih banyak wisatawan untuk berkunjung.

"Galunggung itu potensi pariwisatanya sangat luar biasa kalau dikembangkan. Kalau kitq mau melihat sunrise, sangat luar biasa bagus. Lebih bagus daripada yang di Lombok. Tapi sekarang ini penghasilan yang masuk ke pemerintah dari pengelolaan Galunggung baru sekitar Rp300 juta pertahun. Mudah-mudahan ke depan bisa menghasilkan Rp1 atau 2 miliar," ucapnya.

AYO BACA : Pendidikan Harus Lahirkan Generasi Berkarakter

Editor : Andri Ridwan Fauzi
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600